Aku, Kau, dan Pertemuan pertama kita…,

Jika aku tak salah ingat , maka awal kita jumpa adalah saat senja mulai menyingsing. Meski kuningnya masih belum begitu terlihat. Sepekan sebelum kita bertemu, aku hanya salah duduk waktu itu. Aku tak mengenal mereka, yang ku tahu hanya ada kakak kelas kita yang jadi ketua kemuslimahan yang sedang membuat sebuah lingkaran dengan teman2nya. Ya…awal kita jumpa adalah awal nafas kita menjadi manusia berstatus baru. Dari pelajar menjadi maha pelajar (baca: mahasiswa). Tapi tepatnya adalah permulaan dari revolusi atas diriku, karena sepertinya kau telah lebih dulu membenahi rumah di hatimu dibanding aku.

Langit sedang tak bersahabat, awan tak sepenuhnya kuat menahan bebannya, rintik air mulai mengguyur tepian masjid hijau kampus kita. Aku yang tadinya ragu akhirnya mendekat, melayangkan tanganku untuk berjabatan dengan mu. Menyebutkan namaku dan dibumbungi dengan cuap2 yang lain, tapi kau hanya menyebutkan namamu, “nama ku Naralita” panggil saja yani. Permulaan yang membuatku mengernyitkan dahi, ya…awalnya adalah dari namamu. Yang begitu asing, lebih tepatnya aneh. Nama panggilanmu begitu berbeda dengan nama lengkapmu. Ah….itu hanya fikiran nakal yang sengaja mampir diotakku. Tapi tak ku ucapkan tentunya. Bahkan aku menyimpannya saja, hingga saatnya aku tahu sejarang panggilan namamu.

Hal kedua yang membuatku takjub adalah tentang sikapmu, yang lebih banyak diam jika berkomunikasi. Begitulah seterusnya sampai kita bertemu kembali di lantai yang sama. Masjid kampus dengan agenda lembaga sama yang tlah kita pilih. Sepanjang pertemuan kita berikutnya, kau tetap dengan diri yang banyak menyimpan katamu, dan aku terus banyak bercerita padamu. Tentang agenda-agenda kampus yang sedang kita rencanakan, hanya sebatas itu saja. Karena kita tak tinggal satu atap namun satu aktivitas.

Entah aku lupa sebab apa yang membuat kita sering bersama meski kita tak sedang berada pada masa di mana agenda2 kampus harus menjadi pembahasan kita sehari-hari. Yang aku ingat di tahun kedua kuliah aku bercerita padamu, perihal keinginanku untuk ber-“part time job” sembari kuliah. Dan baru engkaulah yang tahu alasan2ku, dan kau mendukung keinginanku. Tak cukup itu, kau rela membawa motor dari rumah, meski kau berkilah alasannya untuk  mempermudah aktivitasmu  ke kampus, tapi tanpa kau sampaikan pun aku begitu gembira dengan pinjaman motor yang sangat membantuku.

Di tahun2 berikutnya kita bersepakat untuk mencari sebuah rumah baru, untuk kita tinggali bersama. Dengan rentetan cita2 yang ingin kita gambarkan di kanvas kampus kita. Dan kau masih tetap sedikit bicara, berbeda aku yang masih lebih banyak cerita yang memberatkanmu mungkin…,

Kini 4 tahun telah beranjak, berawal dari pertemuan kita di senja sore. Waktu mengharuskan kita berpisah dalam jarak, membawamu berpindah ke tempat yang lain, yang kau pilih dan menjadi yang baik menurutmu. Sepanjang waktu lalupun hingga esok yang akan kita lewati, kolase perjalanan kita takkan terganti dan takkan terlupa. Dan persaudaraan kita akan menjadi ikatan yang tak menilai deretan angka tahun dan tetap terpaut meski jarak tak lagi dekat, menjadi persahabatan yang tak lekang oleh waktu.

Dan kini aku tahu, bersahabat memang tak harus slalu bersua bersama, tak meski harus berjabat erat, tak meski harus satu dalam kesepakatan, tetapi ia terpaut dalam langkah yang sama dan bersatu dalam doa-doa yang padu.

 

Di sini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau menghulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria…

Kini dengarkanlah dendangan lagu tanda ingatanku
Kepadamu teman agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu

Kenangan bersamamu tak kan ku lupa
Walau badai datang melanda
Walau bercerai jasa dan nyawa

Mengapa kita ditemukan
Dan akhirnya kita dipisahkan
Mungkinkah menguji kesetiaan
Kejujuran dan kemanisan iman
Tuhan berikan daku kekuatan

Mungkinkah kita terlupa Tuhan ada janji-Nya
Bertemu berpisah kita ada rahmat dan kasih-Nya
Andai ini ujian terangilah kamar kesabaran
Pergilah gelita… hadirlah cahaya…

Untuk selamanya…

Munsyid Brother: untukmu teman

4 thoughts on “Aku, Kau, dan Pertemuan pertama kita…,

  1. ceritanya lagi kangen masa kuliah kemarin nich mbak…,

    padahal baru kemarin juga pisahnya., serasa dah lama.

    pernah ngrasain gitu juga kan mba?

    kaya’ lagi di persimpangan jalan, antara sense of mahasiswa sama jadi manusia dewasa.he…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s