PEMULUNG Di SUDUT GELAP

lagi-lagi nemu tulisan jadul….2 tahun lalu.

tulisan di buku Sekolah Kolong Langit, yang diterbitkan bersama teman-teman FLP Ngaliyan, Semarang.

selamat membaca…..dan mohon masukannya………

PEMULUNG DI SUDUT GELAP

 

Pagi yang cerah. Gemericik air sisa hujan semalam masih terdengar. Turun dari sela-sela seng yang bocor.

Dedaunan bersiap menerima rizki paginya, mentari akan segera terbit dan membagikan cahaya pada  dedaunan di alam . Melambai-lambai, gemulai. Kunikmati saja alunan halus daun-daun pohon mangga di depan rumah. Daun-daun kering terbang pelan menuju tanah.

“ rongsok-rongsok…..rongsoknya-rongsok..”

Seorang wanita tua tiba-tiba membangunkan imajinasiku.

Kulihat tangan kanannya memegang besi panjang, rupanya untuk mencukil botol-botol yang akan ia kumpulkan di karung yang ia jinjing.

Bugh….tiba-tiba sebuah papan kayu tertabrak karung rongsokan, lalu terlihat mengayun-ayun hendak terjatuh, dan akhirnya kembali bertahan dalam tegaknya. Di geser kembali di bahunya

“PEMULUNG DILARANG MASUK “

Ibu tua itu seakan tak menghiraukan tulisan yang terpampang jelas di gerbang masuk perumahan.

Hingga dua orang berseragam satpam datang mendekatinya.

“ Bu, pemulung tidak boleh sampai sini. sudah ada tulisannya di depan!”

Dua laki-laki berseragam menarik pelan tangan Ibu tua yang tak kunjung meninggalkan komplek perumahan.

Ibu tua hanya diam dan pasrah ketika karung yang masih setengah isi di bawa beserta dirinya,

Aku memperhatikan dengan seksama peristiwa itu, sang ibu sesekali menoleh pandang padaku. Sorot matanya tajam menatapku. Hingga hanya karung kusam yang kulihat terseret menuju ujung jalan.

###

Bau busuk di pekarangan rumah tercium hingga kamarku, pagi ini tak sama seperti hari yang lalu. Tapi tak begitu jauh bedanya, kemarin bau itu menyengat ketika aku keluar rumah untuk menghirup udara segar. Tapi apa yang kudapat pagi kemarin, bukan segarnya oksigen yang dikeluarkan dedaunan namun bau busuk itu menghilangkan semangatku untuk berjalan menyusuri perumahan.

Sama halnya ketika satu minggu yang lalu Hari teman satu kontrakanku akan mencuci motor di sumber air sebelah rumah, ia merasakan bau yang begitu menyengat hidung. Sungguh membuatku enggan keluar rumah hari ini. Apalagi jika kutunggu hingga mentari menampakkan sinarnya…hufh…maka bau busuk itu akan tetap terbayang-bayang oleh fikiranku. Ia mengikutiku di sepanjang jalan setapak menuju kampus. Aku berlari dan ah…lumayan bau itu mulai menghilang saat aku masuk gerbang kampus.

Aku merasa terbebas kini dengan siksaan yang mendera hidungku, pagi hari saja sudah disambut dengan hawa yang tidak menyenangkan. Sungguh bau itu menggangguku. Aku harap hari ini terakhir aku menghirup udara yang buruk itu, tidak untuk hari esok. Yang ada hanya kesejukan yang riang menghampiri.

“ Soni, …”

Dari sudut koridor kampus kudengar suara kecil memanggilku.

“ ah, Ihsan…malas aku menanggapinya” gerutuku dalam hati

“ eh, sebentar” tahan Ihsan seraya menyalamiku.

“ ada apa ihsan”

“ kapan ada waktu San?, akau mau kekontrakanmu!”

“aku gak ada waktu”

“wah, sibuk sekali kau. Aku Cuma maen aja. Kebetulan ada sesuatu di rumahmu yang mau aku jadikan sample penelitianku, gimana?”

“ya udahlah terserah kamu”

“sip.aku kekosmu sore nanti”

Suaranya emakin tak terdengar, karna tadi akupun langsung meninggalkannya.

Sudah kuduga, ia pasti akan meminta waktuku agar ia bisa datang ke kontrakan.

Benar-benar orang yang aneh. Aku saja begitu tak tahan dengan bau busuk yang ada disekitar kontrakan ku, eh ada juga orang yang malah bersikeras datang ke kontrakan.

###

“ selamat mencium bau yang tak sedap setiba di kontrakan, “

Balasku saat Ihsan mengirimkan sebuah SMS memastikan ia akan segera datang ke kontrakan.

Tok…tok..tok

Tak lama setelah aku mengirimkan sms, pinti kamar terketuk.

“siapa?” jawabku malas, tubuhku masih setia dengan lantai menghilangkan panasnya hari dan mengusir bau busuk itu dari dalam kamarku.

“ ihsan” teriak seseorang dari luar.

“ dia rupanya, cepat sekali sampai baru sms kubalas”

“ buka aja gak aku kunci” balasku kemudian.

“ufh…Soni bau apaan ni. Kamarmu gak pernah dibersihin ya”

Aku hanya terdiam dan membereskan beberapa lembar kertas-kertas tugasku yang berceceran di lantai.

Aku hendak membaringkan kembali tubuhku kelantai, namun Ihsan mengalihkan ke inginanku.

“ngapain bawa-bawa kamera San?” kutanyakan pada nya.

“ini dia yang mau aku jelasin sama kamu”

“sekarang aku sedang menyelasaikan satu penelitian”

“terus apa hubungannya dengan ku?”

“sebentar kujelaskan dulu”

“aku meneliti tentang tingkah laku yang berhubungan dengan kebersihan di lingkungan para mahasiswa berprestasi”

“dan kamu salah satu yang akan kujadikan contoh penelitian ku dengan segala keanehanmu”

“jarang-jarang kan  ada mahasiswa berprestasi tapi jorok”

“betul bukan”

“terserahlah apa penelitianmu, yang jelas katakan saja apa yang bisa kubantu. Lalu pulanglah aku mau istirahat”

“ tenang…tenang..tak banyak yang kuminta darimu, cukup bukakan pintu kos jika aku membutuhkanmu. Sebagai gantinya kau bisa minta traktiran padaku”

Entah apa yang baru ia katakan, mataku sudah tak kuat lagi untuk bertahan.

###

 

 

Hari masih fajar, kuterbangun dengan deringan HP yang begitu keras tepat disamping telingaku.

Kulihat dilayar HP ku,

“ Ihsan calling”

“ halo, apaan San pagi gini”

“bukain pintunya aku dah di depan kontrakan”

Apa-apaan pagi gini dah datang

Dengan langkah berat kubukakan pintu rumah.

“pagi bener mau ngapain?”

“pagi ini aku mau cek pekarangan sekitar kontrakanmu, harus kulihat keadaannya”

“trus ngapain pake ketuk pintu, ini kan rumah bukan pekarangan. Ganggu tidur aja”

“tunggu dulu, yang aku butuhin kamu.”

“harus kutanya bagaimana pendapatmu mengenai lingkungan di sekitarmu”

“ayolah,cuci muka dan jalan-jalan sebentar!, itung-itung joging pagi.

Dengan terpaksa aku mengikuti perintahnya.

Udara masih dingin ketika kau dan Ihsan mulai berjalan berkeliling rumah. Ia yang terus menyodorkan pertanyaan hanya kujawab singkat yang kemudian ia tulis di buku kecilnya.

Mungkin ia tak sadar dengan bau yang setiap haru kurasakan . dan kini semakin dekat, mungkin karena ia terlalu bersemangat dengan laporannya.

“tunggu San, kau mencium bau ini”

“ya, aku menciumnya. Sepertinya berasal dari tumpukan sampah di depan kita”

Kami bersegera menuju tumpukan sampah-sampah plastik yang berada tepat di samping jendela kamarku. Ini betul sekali bau yang sering memenuhi kamarku.

“astaghfirullah”

Ihsan berteriak seketika. Kulihat ada potongan tangan yang telah menghitam di sana. Di sudut kontrakanku. Dan karung itu, karung yang di bawa pemulung malang yang kulihat waktu itu.

 

Na’imah Awan

Kota Atlas, 27 Oktober 2010

“ berharap tumpukan sampah di sebelah rumah segera teratasi”

“Me N temen2 FLP Sekaran”

Saat Lounching dan bedah Buku Sekolah Kolong Langit bersama teman-teman FLP Semarang di Kampus II IAIN Walisongo Semarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s