jejak pena…..

Edelweis dalam penantian

Semilir angin yang berhembus lirih kian melenakan hati seorang gadis yang tengah asik berbincang dengan alam di pinggir sungai. Gadis dengan jilbab coklat susu yang menutup kepalanya, kaos lengan panjang berwarna krem dipadukan dengan rok panjang berwarna coklat tua yang kiranya warna roknya sudah agak kabur, kiranya karena telah lama rok itu menemani hari-harinya .  Gemericik air yang bersautan menambah anggun deburan sungai , seakan ingin tetap menikmati keindahan ciptaan yang tiada tara. Keindahan tasbih alam, yang mengalun merdu bersama hembusan angin segar dan kicauan burung yang beradu dalam musikalisasi alam ,  tak terasa senja tengah mengabarkan bahwa ia   akan segera mengantar sang matahari yang telah menerangi alam pada hari itu dan menjemput sang bulan, yang siap menyinari malam bersama gemintang yang bertaburan…

Dengan langkah gontai Ana meninggalkan tepian sungai, bersama sebuah surat yang telah kusam, mengingatkannya pada masa silam, 3 tahun yang lalu. Ketika ia masih berseragam putih-biru, seragam kebanggaanya kala itu.

Namun ingatanya terkagetkan oleh kabaran senja, ia harus segera kembali ke           pesantren sebelum malam menjelang, sebelum gelap datang dan ia putuskan untuk menghentikan renungannya bersama alam…meski alam memang selalu lebih indah ia rasa, namun masih banyak yang harus ia kerjakan di pesantren, dari hafalan yang perlu ia ulang, hingga kitab-kitab gundulan yang harus segera ia isi lewat kajian bersama ustadz Karim, ustadz Hasan, atau entahlah siapa yang akan mengisi ngaji, ia dengar akan ada ustadz baru yang datang ke pesantren. Ia masih sangsi dengan berita tersebut  ia hanya mendengarnya dari percakapan lirih teman-teman satu kamarnya. Entahlah apa saja yang mereka perbincangkan ketika para santri  tengah penat dengan rutinitas hariannya. Ana yang memang pendiam lebih memilih untuk menyendiri di kebun depan kamarnya ketimbang harus berbincang-bincang dengan beberapa teman satu kamarnya yang terkadang tak terarah guyonannya. Mulai dari berbicara tentang rencana mereka ketika libur pekanan tiba, berlanjut dengan membicarakan polah tingkah teman satu blok yang terdiri dari 40 santri  hingga tak jarang  mereka membincangkan santri-santri yang berada di pondok putra …

langkahnya dipercepat menuju pondok, 50 meter di depan telah terlihat bangunan-bangunan sederhana dengan tembok bata yang belum sempurna terpola, dan dengan atap seng yang telah kekuningan karena ausnya…sebuah pondok pesantren di sebuah desa kecil di kaki gunung sindoro. Pondok Pesantren Putra-Putri Al-Kautsar.

***

Malam hampir tiba. Adzan maghrib telah terdengar merdu dari sebuah masjid, masjid kecil di pondok yang kini mulai dikerubungi para hamba yang ingin bersua dengan Rabbnya…

Ana menuju tempat wudhu dan segera membasuh peluhnya dengan kesegaran tetes-tetes pensucian….mensucikan jiwa dan raganya.

Diambinya mukena terusan dan segera ia ikuti gerakan imam. Sepenuh jiwa raga telah ia serahkan kepadaNya…

Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil ‘alamin……sesungguhnya solatku ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah padaMu, Rabb seluruh alam….senandung takbir mengantarkan seorang hamba dalam peraduannya…

Ba’da maghrib seluruh santri telah siap rapi dalam barisan masing-masing, duduk dalam kerumunan para pendulang ilmu, santri putri berada dalam barisan   terpisah dengan santri putra…pemandangan indah para pencari ilmu. Terlihat seorang santriwati masih sibuk menata mukenanya, santri yang lain dengan  mushaf ditangannya mulai mengulang hafalannya, sedangkan  Ana masih sibuk dengan dzikir rutinnya…sebuah buku zikir kecil terpangku ditangannya,  matanya mulai meniti ayat demi ayat dengan mulut  komat-kamit, ada sebuah ketulusan do’a di relung sana…..

Para santri langsung merapkan barisannya yang tak beraturan, yang masih di luar ruanganpun bergegas masuk. Ketika tersadar seorang ustadz muda yang bersarung hijau motif kotak, berkoko dan berpeci putih padu padan dengan kulitnya yang cerah dan postur tubuhnya yang tinggi masuk kedalam ruangan…Ustadz Salim, seorang ustadz lulusan pondok pesantren di Jawa timur yang Ana dengar baru  tiga hari yang lalu pulang ke desa nya dan langsung kembali ke pesantren Al-Kautsar…pesantren yang dulu pernah membentuk jiwanya hingga ia dapat melanjutkan ngajinya ke Jawa timur…memang dialah yang ditunggu Kiyai Shodiq selama ini, kiyai yang sering menyebut-nyebut nama santri kesayangannya itu selalu berharap akan kepulangan santrinya itu agar segera megurus pesantrennya yang memang masih kekurangan ustadz. Sebenarnya keadaan tidak separah ini jika saja ketiga putra pak kiyai tak lebih memilih melanjutkan pendidikannya di luar negeri, tapi selalu saja kiyai  Shodiq berkata bahwa anak-anaknya pasti akan segera kembali untuk meneruskan perjuangannya di pesantren, melihat kesehatan Kiyai yang semakin hari semakin tak baik.

Ngaji segera di mulai, malam ini Ustadz Salim sengaja tak mendiktekan isi-isi kitab kuning yang kini berada di tangan para santri , hanya sebuah perkenalan yang ingin ia sampaikan. Santriwati yang biasanya terkantuk-kantuk langsung terjaga ketika tersadar bahwa ustadz yang sering diceritakan Kiyai sekarang ada di depan mereka,mungkin mereka terpesona dengan wajahnya atau bahkan kepintarannya yang menguasai bejubel ilmu yang diberikan Kiyai sedangkan para santriwan sedang terkagum dan membayangkan jika saja mereka yang menjadi ustadz muda yang baru saja naik haji tahun lalu,,,Ana sendiri merasa ada hal yang aneh, ia merasa tak nyaman mengaji malam itu. Ingin rasanya ia segera keluar ruangan dan lebih memilih menatap rembulan sambil menceritakan apa yang ia rasakan malam itu…Ustadz muda itu mengingatkannya pada seseorang yang sangat berat ia ingat dan begitu sulit untuk dilupakan…wajahnya dan cara bicara yang hampir sama…andaikan ia bisa memilih.

Ngaji malam itu berjalan hingga adzan isya yang berkumandang  merdu, Ustadz Salim menutup dengan hamdalah serta salam…kembali para santri  bersiap untuk bersujud dalam sholatnya.

***

“ tok…tok…tok……”

“Assalamu’alaikum….mbak ”

terdengar ketukan kecil dari pintu kamar

seorang santri yang tengah menyelesaikan wiridnya segera berdiri menuju sumber ketukan…

“Wa’alaikumusalam….”

“sinten nggih….”

“kulo mbak, Inah….”

“ada apa to mbak Inah, tumben sepagi ini?, tanya Ana penuh dengan rasa penasaran, sambil membukakan pintu…

“wah kebetulan yang bukain mbak Ana, o ya mbak Ana dipun dawuhi kiyai…kata beliau sebelum kajian pagi mbak Ana di dawuhi ke ndalem Kiyai…” jelas inah

“ada apa ya mbak ya….?, Ana kembali bertanya

“kulo mboten ngertos mbak….sampun rumiyin mbak…Assalamu’alaikum….”ucap Inah sebelum pergi lagi menuju ndalem Kiyai…

Mbak Inah adalah salah satu santri yang telah hidup lama di pondok ini, banyak teman yang bercerita bahwa 15 tahun yang lalu ketika mbak Inah berumur 3 tahun bu nyai menemukannya di depan masjid pondok, tanpa satu keluargapun sehingga Bu nyai dan keluargalah yang memingitnya menjadi seorang anak.

Hal yang harus disyukuri dibandingkan kebanyakan bayi yang sering di buang di tempat sampah begitu saja tanpa sebuah pertanggung jawaban, atau bahkan dijual kepada tangan-tangan najis para manusia penggila dunia,  segala cara yang harampun mereka lakukan untuk mendapatkan uang dan menutupi aib-aib di balik rumah-rumah mewah mereka. Na’udzubillah..memang…nikmatnya hidup dengan iman tak dapat diperbandingkan dengan kemegahan dunia dengan segala isinya….

Hanya syukur yang terucap jika Ana mengingat kisah mbak Inah dari teman-temannya…setidaknya dia masih lebih beruntung memiliki orang tua, meski sejak 14 tahun yang lalu ia telah berada di pesantren dan sejak itu pula ketika ia masih berusia 5 tahun orang tuanya tak lagi menjenguknya, entahlah karena apa….pernah Ana mencoba menelusuri alamat rumahnya dulu, sekitar libur hari raya tahun kemarin ia ditemani Nurul teman satu kamarnya menuju sebuah perkampungan di pinggiran Kota Semarang…tapi tak ada hasil, ia pun pulang ke pesantren dengan sebuah pilu. Alamat rumah yang ia datangi kala itu telah berubah menjadi bangunan-bangunan mewah…lagi-lagi tempatnya manusia menghamburkan rupiahnya dan kembali terpaut pada dunianya….entahlah kemana orang tuanya kini…..

Ia hanya mampu berucap terimakasih pada pihak pesantren yang tak pernah mengungkit biaya pondok selama ini, Ia hanya diberi tugas membantu sebisanya itupun jika Bu Nyai memerlukannya….meski rasa penasaran untuk tetap memcari kemana pergi orang tuanya, namun ia hanya mampu berdo’a semoga kedua orang tuanya tetap diberikan keselamatan jika mereka masih di dunia, dan jikapun mereka telah terlebih dahulu bertemu dengan Sang Pemilik Hidup maka ia ikhlaskan dan memohon agar keduanya bertempat di taman terindah Nya….Ia pendam keinginannya bersama tangis yang terendam di sudut kalbu, keinginan untuk kembali berkumpul dalam hangatnya candaan bersama keluarga ketika ia masih kecildulu. Tak terbendung butir-butir halus menetes dari matanya, membasahi pipinya setiap teringat akan perjalanan hidupnya…namun yang slalu Ia yakini hingga kini bahwa Allah lah tempat berserah …

***

Pesantren Al-kautsar ba’da subuh mamasih terasa sepi…para santri masih sibuk berada di kamar masing-masing, biasanya mereka mengulang hafalannya di pagi hari,bersama teman satu kamar, ataupun sendirian menyepi di halaman depan yang dipenuhi tanaman hijau pegunungan…Ana mulai melangkah kecil menuju Ndalem Kiyai, sesuai dawuh Kiyai bahwa ia harus datang sebelum kajian pagi,,,kajian pagi yang masih satu jam lagi, dalam perjalanan menuju dalem, begitu hati Ana penuh tanya, tak biasanya Pak Kiyai ataupun Bu Nyai menyuruhnya datang pagi-pagi, apa mungkin karena kini hidupnya menambah beban di pondok, atau mungkinkah ia telah melakukan kesalahan yang tak ia sadari,,,hatinya masih penuh dengan tanya….

“Assalamu’alaikum”….

“wa’alaikumsalam”…

Terdengar jawaban serentak dari dalam ruangan yang memang terlihat karena pintu yang sengaja dibiarkan terbuka…mungkin  memang sengaja untuk menunggu ku…Tebak ana dalam hati….

Di dalam ruang terlihat Pak Kiyai tengah duduk bersama Bu Nyai,,,disisi yang berhadapan telah duduk seorang ustadz muda yang sangat aku kenal…ya…Ustadz Salim…

Bu Nyai dan Kiyai menyambut Ana dengan senyum, sembari Bu Nyai berdiri dari duduknya dan segera membimbing Ana ke kursi yang memang masih kosong dan belum terduduki…kini kursi-kursi diruangan itu telah penuh, dengan posisi melingkar yang  mengantarkan kami kesebuah diskusi penting sepertinya…ustadz muda itu masih terdiam dalam tunduknya,,,entahlah, matanya masih sibuk menerawang sisi bawah ruangan ini…memandang hamparan karpet hijau yang menerima tapakan kakinya…

“ begini nduk Ana” mula Pak Kiyai yang segera membangunkan dari kesibukannya bercengkrama dengan  hati…seakan bermain tebak-tebakan tentang apa  yang akan  Pak Kiyai sampaikan…

“sebenarnya pak kiyai hanya sebagai perantara saja dari seorang pemuda yang insyaAllah sholeh yang berniat meminangmu”…

deg…..seakan ada yang menerpa dengan cepat keulu hati…sebuah jawaban singkat dari penerkaannya…dari pergulatan batin dan perasaanya.

“Nak Salim yang sekarang ada di depan mu, berniat untuk meminangmu…kurang lebihnya  seperti itu to nak Salim?” bu nyai menghantarkan tanya pada Ustadz Salim.

“ya, begitulah Ana…aku berniat untuk meminangmu…aku tahu Ana pasti kaget mendengar hal   ini, karena selama ini kita pun tak pernah saling jumpa apalagi bersua…tapi hatiku memang tlah terpatri padamu, hal ini sudah   kupertimbangkan sejak lama, dan aku benar-benar ingin meminangmu. pagi ini aku hanya ingin menemukan persetujuan darimu melalui Kiyai, karena Kiyai Shodiq lah yang kini jadi walimu ” ustadz Salim menegaskan.

“bagaimana nduk Ana?” Pak Kiayi menyodorkan kembali pertanyaannya……..

Ana masih tetap dalam diamnya.

*****

Pagi ini aula pondok telihat ramai, beberapa santri laki-laki tengah membantu menurunkan barang-barang dari sebuah mobil box. Terlihat beberapa kardus yang kiranya berisi kitab-kitab baru, entahlah Ana sudah tak lagi berniat untuk memperhatikan apa yang mereka lakukan, ia ingin benar-benar menggunakan waktu liburnya hari itu, kembali lagi bersama alunan sungai yang bergerak indah, selalu itulah yang ia lakukan jika libur yang ada satu pekan sekali . Karena baginya alam ciptaan Allah telah cukup membuatnya melepaskan  segala yang menyeruak di dadanya.

Kakinya mulai bermain dengan alunan sungai. Mulailah ia menuliskan untaian kata hati pada sebuah buku bersampul hijau yang sengaja slalu ia bawa jika tiba waktunya bercengkrama dengan alam.

Alam…..ingin ku beri kau sebuah tanya yang selama ini menyeruak di dadaku…..kutulis sebuah ungkapan kata yang tak dapat terucap

“akankah Ia kembali…

telah kulalui 3 tahun itu, tahun-tahun yang begitu sulit bagiku.

Tak sedikit  pemuda yang hendak meminangku,

namun tak satupun bisa kuterima untuk mengisi hatiku.

Dia masih kunanti,,,

meski hanya sebuah janji untuk kembali lagi menikmati merdunya nyanyian alam  bersamaku seperti yang dulu.

Akankan ia segera kembali….

Ya Rabb… kuatkanlah hambaMu,

teguhkanlah hati yang takut akan noda yang tak dapat terhapuskan ini,

tentang seorang pemuda yang kini tengah menjadi pengemis ilmuMu di seberang sana,

sebuah negara  yang hanya menjadi bayang-bayang dalam hidupku ketika aku kembali mengingatnya.

Berikanlah petunjuk Mu pada ku

akankah aku harus menanti sebuah ke-abuan????????”

Tak tertahan lagi, butiran bening  mengalir di pipinya,  alampun selalu  lebih  memahaminya. Dengan angin yang semakin membelai lembut tubuhnya, rerumputan bergoyang seakan ingin memberikan sebuah pementasan tarian terindah di alam ini, menghibur seorang gadis yang tengah mencurahkan kebimbangan hati kepadanya. Meski alam akan tetap diam tanpa berucap sepatah kata, hanya dukungan lewat nyanyian merdu mereka yang siap berpentas ketika sang gadis kembali datang dan meminta pementasan itu segera dimainkan untuknya.

***

Pagi ini setelah seminggu berlalu sejak Ustadz Salim menyampaikan keinginannya untuk meminang Ana, sebuah jawaban dari istikharah dan kemantapan hati Ana akan ia utarakan lewat Kiyai.

Malam-malam lalu telah ia habiskan untuk mencari jawaban atas kebimbangannya. Ia harap inilah yang terbaik untuk hatinya, hati Ustadz Salim, dan bagi hati seorang pemuda yang selama ini ia nanti.

Senyum mengembang di bibir ana ketika ia melalui jalan setapak menuju ndalem Kiyai…

Seorang pemuda tengah duduk pasrah di kursi, Ana merapikan duduknya. Bu Nyai yang selalu setia menemani Kiyai memberikan senyum hangat padaku dan segera duduk di samping Ana , menemani dan kiranya ingin meneguhkan hatinya.

Ketika Ana mulai bersua, tak sengaja sebuah tatapan beradu di sana. Namun dengan segera kedua menundukkan kembali pandangannya seiring istighfar terucap dari bibir masing-masing…

Dalam sunyi di ndalem Kiyai, Ustadz Salim kembali menatap Ana penuh tanya di balas sebuah senyuman manis di wajah Ana. Seakan ada butiran bening yang akan segera meleleh dari mata ke empat hamba Allah di ruang itu….

***

Disebuah flat ditepian sungai Nil, sebuah flat yang disewa para pemuda indonesia yang belajar di kota tersebut,

“ Akh Zubaidi ada kiriman surat dari pesantren Al Kautsar untuk sampeyan” seorang pemuda kelahiran Solo menyodorkan surat yang beramplop putih kepada Zubaidi.

“Syukron Mas” Zubaidi menerimanya dan segera ia buka.

Teruntuk Mas Zubaidi di seberang

Perncari ilmu yang semoga masih tetap istiqomah

di Negri impianmu…

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ba’da tahmid dan sholawat.

sebuah do’a kuantarkan lewat angin yang kuharap dapat membisikkan segala kesahku lewat surat yang kini tengah Mas baca. Sebuah do’a dari ku yang berada di negeri kelahiranmu. Semoga Mas penuh dengan rahmatNya, sebagaimana Ia juga mencurahkannya pada ku.

Surat ini mewakiliku mengucap maaf padamu. Maaf karena ku fikir hubungan kita selama ini tak  terarah. Walau begitu berat ku ungkapkan, tapi ku pikir inilah yang terbaik untuk kita. Untuk hati kita, dan Cinta kita.

Kini biarkanlah aku hidup  tanpa harapan-harapan semu untuk kembali menikmati alunan sungai bersamamu. Biarkan aku kembali menjadi Ana yang dahulu ketika Pak Kiyai menolongku dari kesendirian dalam peluhnya kehidupan.

Aku takut hati ini semakin ternoda. Hingga aku tak mampu melepaskan ingatanmu dari setiap langkahku. Ku ikhlaskan jika bukan dunia tempat kita bersama, pun bila suatu saat nanti Mas telah di temani oleh seorang bidadari dunia yang jauh lebih sholehah dariku. Dan kiranya ku harap Mas juga dapat merelakan ku yang selalu merasa bimbang di sini.

Kalaupun aku bukan bidadari mu di dunia yang fana ini, tempat yang lebih indah akan menjadi penantianku sebagai bidadari surgamu.

Itulah yang kuharapkan dari waktu-waktu penantianku disini. Penantian yang tak kunjung kau akhiri, hingga kuputuskan untuk segera mengakhirinya lewat tulisan ini. Aku harap Mas dapat mengerti posisiku kini. Aku tak yakin hati ini akan tetap bersih, kau juga takut jika Ia cemburu bukan?. Aku takut jika Sang Maha Cinta tak memberikan cintaNya lagi kepada kita.

Tunggulah saja sebuah keindahan di masa mendatang yang akan di berikan Allah kepada kita berdua. Sehingga tak akan ada noda yang tumbuh pada taman indah di hati kita berdua.

Wassalamu’alaikum warhmatullahi wabarakaatuh

Dari ku yang tengah meneguhkan istiqomah

dalam sebuah penantian

Nadiana  Salma

“ Surat ini sengaja kuselipkan pada surat dari pesantren karena aku memang tak pernah tahu alamat Mas.  sebuah undangan walimah untuk Mas dari ustadz Salim. Kiranya Mas dapat mengirimkan do’a untuknya meski tak mampu kau memenuhi undanganya. Semua sudah memahamimu keadaan Mas…”

-Rencana Allah pastilah lebih indah-

Tak sadar surat tersebut telah membuat Zubaidi teringat akan janji-janjinya dulu kepada Ana, janji yang entah kapan mampu ia tepati. Namun ia bersyukur betapa gadis yang ia sayangi mampu mengingatkannya untuk segera berbenah dari arah yang kian tak terarah meski masih ada harapan indah disana, namun benar kata Ana rencana Allah pasti lebih indah. Sebuah tangis pun meluruh disujud penuh pasrah seorang hamba yang memohon ampunan kepada Kekasihnya.

***

Masjid Ulul Albab telah terapikan seperti pagi biasanya, masjid pondok yang masih terlihat kokoh dari tuisan yang masih jelas terbaca  disamping pondok

Masjid Ulul Albab didirikan pada tahun 1975

kiranya 30 tahun yang lalu sebelum kini Ana berada di ruang tersendiri bersama Nurul teman seperjuangannya diantara ruang-ruang besar di Masjid Ulul Albab. Gaun hijau muda panjang telah menghiasi tubuh seorang gadis, beberapa polesan tipis dipipinya menambah keistimewaan hari itu, jilbab putih yang menutup kepalanya berpadu dengan kerudung panjang berwarna  hijau muda yang menutupi jilbab sebelumnya. Beberapa rangkaian bungapun menghiasi sisi kanan kepalanya.

Sesuatu yang berbeda hari itu di masjid Ulul Albab, sepasang anak manusia akan terikat dalam Mitsaqon holidzo…sebuah perjanjian besar yang hanya tertulis 3 kali didalam Al Qur’an.

Dalam kehikmatan di Masjid Ulul Albab sebuah perjanjian telah terucap dari bibir  seorang pemuda dengan tegasnya dan diamini seluruh jamaah yang tengah menyaksikannya. Kini Nurul Hani Putri telah resmi menjadi istri seorang pemuda bernama Salim Nur Khoir.

“Barakallahu laka wabaraka ‘alaika wajama’a bainakuma fi khoir…Saudariku” Ana mengucapkan do’a pada teman satu kamarnya tersebut beriring peluk dalam sebuah tangis kebahagiaan.

Keramaian Masjid segera Ana tinggalkan, ia bersegera keluar masjid dan berniat ingin menyaksikan pementasan alam dalam kegalauan hatinya.

Diantara riuhnya santri putra yang ingin memberikan do’a kepada Ustadz Salim, terlihat oleh mata Ana seorang pemuda yang sangat ia kenal menatap kepergianya dari Masjid.

***

Sungai di kaki sindoro masih setia menemaninya dengan alunan nada yang siap dipentaskan melalui sebuah karya terindah di alam raya. Seorang gadis yang tengah merenungi jejak-jejaknya yang telah lalui. Hatinya kini lebih indah ia rasa, Sang Pemilik Jiwa telah ia pilih.

Matanya memusat pada suatu tempat di ketinggian yang berada tepat di depannya.

Di puncak Sindoro yang kini masih bersemi bunga Edelweis, bunga yang hanya dapat dipetik dari sebuah niatan suci dan perjuangan untuk mendaki ketinggiannya.

Sepadan dengan hati Nadiana Salma kini………

-Na’imah Awan Nur –

7:30 am…

6 Desember 2009

“Meniti jejak di Kota Atlas”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s