S.U.J.U.D

Tag

, , ,

sujud

saat rasa di dada begitu bergemuruh
saat deraian tangis tak mampu lagi di redam
saat tekanan membuat ingin melawan
saat yakin terkikis dan berharap segera berlari

yakinlah masih ada tempat untuk sujud panjangmu
dalam sepertiga malam nanti
untuk mengadu gusarmu
untuk mengeluh semua kesahmu
untuk doa-doa yang lekat denganNya
karena Ia akan sesuai dengan prasangka pemilik doa

tak perlu rasa khawatir jika tak terdengar
apalagi tak terijabah
lagi-lagi Ia akan sesuai prasangka hambaNya

maka yakin saja akan usaha dan ikhtiar
yakin akan berbuah
dan berpanen nantinya

S.U.J.U.D

(NA)

MENUNGGU…,

Tag

, ,

wait 3

Seperti kebanyakan orang berpendapat, bahwa menunggu adalah hal yang menjemukan.
Atau coba kita bertanya kepada seseorang: hal apakah yang paling tidak disukai?
Banyak orang akan menjawab MENUNGGU.,
Menunggu benar-benar terasa menjemukan memang, jika selama ini kita hanya menjadi orang yang ditunggu. Untuk janjian di suatu tempat misalnya, kita akan merasa sangat bosan, sumpek, bahkan ingin segera pergi jika seseorang yang kita tunggu tak juga terlihat batang hidungnya. Padahal waktu janjian sudah lebih dari 30 menit. Mungkin pada 5 menit pertama kita masih bisa menikmati lingkungan sekitar , 5 menit kedua masih bisa berdiri kesana kemari, 5 menit ketiga masih bisa ketak-ketik HP entah sms orang yang kita tunggu atau setidaknya buka-buka file pesan atau kontak-kontak yang ada di HP. Menit selanjutnya sudah pengin lari dan pulang saja meninggalkan tempat kita menunggu.
Berbeda jika saat kita menunggu kita membawa barang-barang yang kita sukai. Buku misalnya, novel bagi yang suka novel, atau untuk saat ini bisa menggunakan alat elektronik dengan smartphone yang meraja lela, jadi ebook bisa digunakan sebagai hiburan saat mengusir kejenuhan.
Atau yang suka melukis, bisa bawa kertas gambar, coret sana coret sini barangkali bisa jadi 1 karya luar biasa.
Untuk yang suka nulis, menunggu juga jadi hal yang menyenangkan. karena semakin lama menunggu, ide-ide juga akan banyak berdatangan.
Untuk yang punya banyak tugas (mahasiswa, guru, dosen, dll) bisa langsung buka-buka tugas dan mulai mengerjakan. Kalaupun yang ditunggu tidak datang, setidaknya tugas kita sudah terselesaikan.
Berbeda lagi saat kita menunggu berubanya lampu lalulintas dari warna merah ke warna hijau. Apalagi jika kita berada di kota besar, pasti terasa menjemukan menunggu berubahnya angka 150 ke angka 0. Saya pribadi ketika berhenti di lampu merah saya lebih senang untuk melihat-lihat keadaan sekitar. Mungkin kita bisa menikmati para pegiat seni yang ada di jalanan (pengamen), atau jalanan di depan kita apakah rusak atau tidak, atau melihat pohon-pohonan, tumbuh-tumbuhan di depan mata barangkali ada ulat yang bisa kita lihat. Aktivitas tidak penting memang, tetapi saya merasa hal itu lebih nyaman dari pada saya hanya harus melihat angka lampu lalulintas yang terasa berjalan pelan-pelan.
Dan ada yang lebih utama lagi, menunggu tapi berpahala. Yaitu menunggu sambil buka mushaf lalu di baca. Tentunya kemana-kemana perlu menjaga wudhunya.,
Apapun itu, semua membutuhkan hati yang legowo (menerima)saat kita sedang menunggu, sehingga menunggu menjadi hal yang menyenangkan bahkan menjadi waktu menyelesaikan karya pribadi.
Karena saat menunggu kita memiliki banyak pilihan aktivitas untuk kita manfaatkan, maka pilihlah yang menyenangkan bagi kita sehingga menunggu tidak lagi menjadi hal yang menjemukan.,

Jadi selamat bersabar bagi siapa saja yang sedang menunggu di sana.menunggu siapapun dan apapun itu.,

karena semua kehidupan akan ada matinya, maka menunggupun pasti akan bertemu dengan akhirnya…,

Pohon dan Daun Berguguran

beautiful-autumn1

Pohon:
Wahai daun yang telah bersahabat dengan tanah
Dinginnya tanah yang kan membusukkanmu tetap saja kau terima
Mengapa tak kau tolak saja
Bahkan kau bisa bermain dengan angin yang bisa menerbangkanmu
Barangkali ia akan membawamu ke tempat yang tak akan membuatmu hancur berkeping-keping

Daun:
Wahai pohon yang telah melepaskanku dari tempat tinggalku
Bukankan aku tetap menerima saat aku tak bisa lagi bersamamu
Padahal aku senang, lebih senang saat bersamamu
Menjadi hijau dan menyegarkan
Tapi ketika waktuku untuk jatuh
Maka aku akan tetap menerima
Meski harus bersahabat dengan dinginnya tanah dan hancur setelahnya
Namun barangkali itulah kebermanfaatku di bumi ini
Dengan aku hancur maka kau akan lebih subur
Hidupmu akan lebih panjang
Dan jika aku harus bersahabat dengan angin
Ia hanya akan mengumpulkanku dengan tumpukan daun kering lainnya
Yang nantinya hanya kan hancur menjadi debu
Habis oleh deraian api
Dan hilang begitu saja dalam kehitaman
Maka cukup bagiku menjadi daun
Yang akan membusuk dan menjadi berkah kesuburan alam

Karena warna-warni itu adalah “PUTIH”

Tag

, ,

 

masih ingatkah kau..

saat kau tanyakan “apa warna kesukaanmu?”

maka ku jawab “hijau”

mengapa hijau?

karena indahnya syurga tergambarkan dengan kehijauannya….sungainya…dan tamannya.
bukankah menyegarkan, hijau?

lalu di lain waktu kau tanyakan kembali,

apa warna kesukaanmu?

“biru…”

mengapa?

karena indahnya awan hanya bisa kita lihat jika terhias dalam birunya langit, dan bukankah luasnya lautan juga tergambar dari bebiruan alam?

ah…kau tak tahu

jika kini aku suka “ungu”

mengingat “ungu” bagai mengulang kembali masa lalu, ungu bagaikan kelembutan dan keanggunan…

jadi apa warna kesukaanmu? (masih saja kau bertanya)

baiklah ku jawab….

aku betul-betul menyukai “putih”

karena kau tahu, warna-warni pelangipun berawal dari putih………….

 

Siti Mu’awanah

23:32 pm @kota atlas

(insomnia)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.